VAKSINASI PADA WISATAWAN: VAKSIN WAJIB, REKOMENDASI ATAU RUTIN?

3
2540

Dr.dr.Dewa Ayu Putri Sri Masyeni, SpPD-KPTI
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi
Staf Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa
Pelaku Travel Medicine di RS Kasih Ibu Denpasar

Pendahuluan

Vaksinasi adalah proses pemberian bahan/substrat yang nantinya diharapkan dapat memicu sistem imun tubuh untuk mencegah suatu infeksi mikroorganisme. Vaksin dapat diberikan kepada bayi yang baru lahir, anak-anak serta remaja serta orang dewasa. Wisatawan yang akan bepergian ke luar dari negara tempat tinggal juga harus diberikan vaksinasi tertentu untuk mencegah terinfeksi oleh bakteri atau virus tertentu, sesuai dengan daerah tujuan wisatawan. Vaksin yang diberikan  bersifat individual, tergantung dari riwayat vaksinasi pada wisatawan sebelumnya, daerah/negara yang akan dikunjungi, tipe dan lama perjalanan, serta waktu yang tersedia sebelum keberangkatan. Vaksinasi pada wisatawan dikelompokkan menjadi vaksin rutin, vaksin rekomendasi dan vaksin wajib. Efektifitas vaksinasi pada wisatawan akan maksimal apabila diberikan beberapa minggu sebelum perjalanan wisata dilaksanakan. Pada umumnya vaksinasi pada wisatawan diberikan 4-6 minggu (beberapa buku menyebutkan 2-3 bulan) sebelum perjalanan, yaitu pada saat konsultasi pra-travel dilaksanakan, untuk mendapatkan efek proteksi yang maksimal. Wisatawan sebaiknya melaksanakan konsultasi pra-travel pada travel-travel klinik yang tersedia di daerah masing-masing. Tujuan dari konsultasi pra-travel adalah untuk menilai risiko individual wisatawan di daerah wisata, untuk memberikan edukasi dalam mengantisipasi serta pencegahan risiko kesehatan yang akan dihadapi wisatawan, memberikan imunisasi penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin serta pengobatan preventif (seperti pencegahan malaria) atau self-treatment yang bisa dilakukan oleh wisatawan untuk beberapa penyakit atau sebagai pengobatan pertolongan pertama sebelum datang ke pusat kesehatan di daerah wisata.

Vaksin Rutin

Vaksin rutin adalah vaksin yang diberikan tanpa memandang apakah seseorang akan melakukan perjalanan atau tidak , dan vaksin ini adalah vaksin yang menjadi program nasional bagi satu negara. Pada umumnya wisatawan sudah mendapatkan vaksin rutin semasa kecil, dan mungkin memerlukan vaksin booster pada waktu tertentu.

Menurut buku Yeloow Book/ Centre for Disease Control (CDC) tahun 2018 dan juga WHO, vaksin rutin yang harus di-update pada saat konsultasi pra-travel adalah vaksin Haemophylus influenza type B, Hepatitis B, Human papilloma virus, Influenza, Measles Mumps Rubella, Pneumococcal, Polio, Rotavirus, Tetanus Diphteri Pertussis, Varicella, Zozter. Vaksin hepatitis B direkomendasikan pada wisatawan yang akan mengunjungi daerah wisata dengan prevalensi hepatitis B ≥2% (Yellow book 2018). Vaksin hepatitis B sebagai vaksin rutin yang sudah diberikan pada masa bayi, harus dievaluasi titer vaksin untuk melihat efek proteksinya. Titer vaksin (Anti HBs titer ≥ 10 mIU/mL) dianggap masih memiliki efek protektif sehingga tidak perlu diberikan booster. Booster diberikan apabila titer anti HBs kurang dari titer tersebut.

Vaksin wajib

Vaksin wajib adalah vaksin yang diwajibkan pada orang untuk memasuki wilayah tertentu seperti yang diwajibkan oleh International Health Regulatory (IHRs). Contoh vaksin wajib adalah vaksin Yellow fever untuk mencegah penyakit Yellow fever. Vaksin ini diwajibkan bagi mereka yang akan memasuki wilayah Afrika dan Amerika Selatan. Sebagaimana disebutkan oleh WHO, telah terjadi outbreak kasus Yellow fever dari 1 Juli 2017 sampai 28 Pebruari 2018, kasus yang confirm Yellow fever di Brazil adalah sebanyak 723 kasus, dengan 237 kematian.Oleh karena itu mereka yang akan memasuki daerah tersebut diwajibkan melakukan vaksinasi Yellow fever. Vaksin ini dapat mencegah penyakit Yellow fever dan terakhir pada tahun 2018, WHO pada tanggal 16 Januari 2018 menyarankan menggunakan vaksin ini satu dosis, minimal 10 hari sebelum memasuki daerah terjangkit Yellow fever, cukup memberikan proteksi seumur hidup, serta tidak diperlukan booster (https://www.who.int/ith/updates/20180116/en/). Vaksin Yellow fever tidak boleh diberikan pada bayi usia < 9 bulan, ibu hamil atau ibu menyusui, pasien yang hipersensitif berat terhadap antigen telur, atau penderita imunodefisiensi berat, serta usia diatas 60 tahun. Selain vaksin Yellow fever, vaksin meningokokus juga adalah vaksin wajib untuk mencegah penyakit meningokok, ditujukan terutama bagi para Jemaah Haji yang akan melaksanakan ibadah haji ke Arab Saudi. Pada tanggal 9 Juni 2019, WHO mengisyaratkan vaksin Polio, YF, seasonal influenza, meningokokus, MERSCoV dibutuhkan oleh calon jemaah haji terutama yang berasal dari daerah endemis penyakit tersebut.

Vaksin rekomendasi

Vaksin yang secara medis disarankan berdasarkan risiko penyakit yang ada, terlepas dari ada atau tidak adanya persyaratan memasuki negara tertentu. Contoh vaksin kelompok ini adalah vaksin kolera, BCG, Tick Bone Encephalitis (TBE), Japanese Ensefalitis, rabies, meningococcal disease, hepatitis A and B, typhoid fever, traveler’s diarrhea. Vaksin kolera umumnya disarankan untuk wisatawan yang berkunjung ke daerah-daerah yang mengalami bencana alam atau kamp-kamp pengungsian. Vaksin kolera dapat diberikan per-oral. Vaksin mencegah TBC diberikan pada wisatawan yang bepergian dalam waktu relative lama pada daerah endemis tinggi TBC. Vaksin TBE diberikan pada wisatawan yang bepergian ke daerah endemis TBE atau wisatawan yang beraktifitas seperti hiking, camping di hutan. Vaksin JE diberikan pada wisatawan yang menetap > 30 hari pada daerah endemis JE atau < 30 hari tetapi banyak beraktifitas di luar ruangan. Vaksin rabies diperuntukkan pada wisatawan yang berwisata ke daerah endemik rabies.

Selain pembagian tersebut di atas, vaksin juga digolongkan menjadi vaksin hidup/dilemahkan, atau vaksin mati tergantung dari komponen vaksin tersebut. Contoh vaksin hidup adalah vaksin polio (OPV), varicella, Yellow fever. Pemberian vaksin hidup tidak disarankan pada penderita dengan imunodefisiensi seperti HIV, atau membutuhkan persyaratan tertentu seperti jumlah CD4+ yang harus lebih dari 200 sel/mm3 sebelum diberikan vaksin hidup.

Jadi pilihan vaksinasi akan tergantung dari daerah wisata yang akan dikunjungi serta kondisi imun seorang wisatawan. Vaksin bisa didapatkan pada seluruh layanan kesehatan yang menyediakan sarana vaksinasi.

3 COMMENTS

  1. Long time supporter, and thought I’d drop a comment.

    Your organization’s wordpress site is very sleek – hope you don’t mind me asking what theme you’re using?
    (and don’t mind if I steal it? :P)

    I just launched my small businesses site –also built in wordpress like
    yours– but the theme slows (!) the site down quite a bit.

    In case you have a minute, you can find it by searching for “royal cbd” on Google (would
    appreciate any feedback) – it’s still in the works.

    Keep up the good work– and hope you all take care of yourself during the coronavirus scare!

    ~Justin

    • Hello, my name is Jarwa Antara, I am admin of this website, sorry for late respons, well I have use third party for construct this website, but I don’t know what setting they are use. this site use a businesses platform. My be the bandwith are much bigger than standard one. thank you for your attention, indeed, we fight for coronavirus right now. i have tried to open royalcbd.com, but it won’t.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here